MBK Ventura, Indonesia : Dampak pengukuran dengan menggunakan survey nasabah 2005 & 2008


Penargetan merupakan strategi penting untuk mencapai masyarakat miskin. Di MBK, semua nasabah adalah perempuan. Sekitar 75% nasabah ini berasal dari keluarga berpenghasilan rendah dibawah garis kemiskinan resmi, seperti yang diperkirakan oleh (a) Index perumahan CASHPOR yang dimodifikasi, dan (b) pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan resmi.


Untuk memantau dan mengevaluasi dampak MBK pada pendapatan, kemiskinan dan standar hidup. MBK menugaskan 2 survey nasabah dari Sekolah Bisnis Universitas negeri di California. Survey pertama dilakukan pada tahun 2005 dan kedua pada tahun 2008. Hasil penelitian yang lebih baru diringkas seperti dibawah ini, yang melibatkan 287 nasabah yang dipilih secara acak dan 201 responden yang dikontrol. Pendapatan rata-rata nasabah meningkat 22% antara siklus modal kerja satu dan dua, dan kemudian sebesar 23% antara siklus tiga dan empat (gambar 1).


Ukuran pinjaman rata-rata nasabah MBK adalah sekitar Rp 700.000.- (USD 75) pada tahun 2009. Jumlah ini sebesar hanya 3% dari pendapatan nasional bruto per kapita Indonesia dari USD 2,200.- pada tahun itu.


Gambar 1, Pendapatan rata-rata dari kegiatan modal kerja 2008

Sumber : “Menilai dampak dari MBK”, Richard W. Moore, dari Universitas negeri di California, Northridge, 2010.


Gambar 2, Pendapatan rata-rata dari kegiatan modal kerja 2008.

Sumber : Sama seperti gambar 1.


Kemiskinan juga meningkat secara substansial dalam periode ini. Jumlah orang di atas garis kemiskinan meningkat dari sekitar 20% menjadi 61% antara siklus pertama dan kelima dalam program (gambar 2).


Status perumahan nasabah menunjukkan peningkatan yang nyata antara siklus 1 dan siklus 5 seperti yang ditunjukkan pada grafik dibawah ini (gambar 3).


Gambar 3, Tren indeks perumahan CASHPOR yang Dimodifikasi

Sumber : Sama seperti gambar 1.


Beberapa keterbatasan dalam survey nasabah diatas harus diingat. Hanya nasabah yang ada diwawancarai, dan tidak putus, sehingga penelitian ini menderita dari beberapa bias seleksi diri. Namun, jumlah nasabah yang putus dari program ini sangat kecil (5% per tahun setelah tahun pertama). Demikian juga, adalah tugas yang sulit untuk merancang sebuah kelompok kontrol yang memadai. Responden yang dikontrol dalam survei ini dipilih berdasarkan kedekatannya dengan nasabah dan dari latar belakang sosial ekonomi yang sama seperti yang dikumpulkan berdasarkan status perumahan mereka, dan tidak menggunakan alat skrining yang lebih canggih. Namun demikian, survei ini mampu mendokumentasikan manfaat nyata dan signifikan dalam hal peningkatan pendapatan, pengurangan kemiskian absolut, dan perbaikan kondisi perumahan yang dipilih secara acak, secara relatif contoh yang besar dari nasabah MBK, dipilih untuk mewakili program melallui lima siklus pertahun. Selain itu, hasilnya cukup konsisten dengan survei sebelumnya yang dilakukan di tahun 2005.