Latar Belakang dan Tujuan


Tantangan Pendapatan Rendah di Indonesia


Menurut estimasi secara konservatif di Indonesia diperkirakan ada 10 juta keluarga pra-sejahtera atau berada dibawah garis kemiskinan. Selain itu masih ada sekitar 10 juta keluarga yang pendapatannya berada disekitar garis kemiskinan. Berdasarkan data Bank Dunia tentang kemiskinan di Indonesia dikatakan bahwa sekitar 43% penduduk Indonesia berada dibawah angka $2 dollar (purchasing power parity), dan sekitar 16% berada dibawah angka $1.25 dollar (purchasing power parity), sebagai acuan garis/angka kemiskinan di tahun 2011.


Bersama dengan lembaga keuangan lainnya di dunia, MBK meyakini bahwa ketersediaan modal kerja merupakan senjata yang paling efektif dalam memerangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Asumsi yang mendasari hal tersebut adalah bahwa masyarakat berpenghasilan rendah telah mengembangkan daya juang dan bersedia untuk bekerja keras untuk mengatasinya. Kaum miskin juga tidak menerima nilai yang pantas untuk hasil kerjanya, sebagai akibat dari pembebanan dari para rentenir untuk bunga sebesar 20% per bulan, yang mengambil sebagian besar porsi penghasilan yang menjadi haknya.


MBK menggunakan pendekatan ala Grameen Bank dalam menyalurkan modal kerja dalam kisaran Rp1-3 juta kepada perempuan yang berpendapatan rendah. Pendekatan ini sangat cocok bagi kondisi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk sebanyak 241 juta jiwa ditahun 2011, jumlah tenaga kerja berkisar pada 110 juta jiwa. Dari jumlah ini sekitar 38 juta jiwa (34%) mempunyai pekerjaan tetap (pekerja formal). Sisanya 72 juta jiwa (66% atau dua per tiga), berusaha sendiri/wiraswasta (39%), tenaga kerja musiman di bidang konstruksi dan pertanian (10%). Sisanya sebesar 16% pekerja keluarga yang tidak dibayar, biasanya perempuan terutama dibidang pertanian. Kemiskinan di Indonesia bukan semata-mata masalah gaji yang rendah bagi karyawan, melainkan penghasilan yang rendah bagi kebanyakan mereka yang disektor informal (berusaha sendiri/ wiraswasta, pekerja lepas dan pekerja keluarga tidak dibayar). Salah satu hambatan adalah akses kepada modal kerja sebagai pelengkap untuk mencapai penghasilan yang lebih tinggi. Ketersediaaan modal kerja juga akan menarik kaum ibu rumah tangga (yang tidak dihitung sebagai angkatan kerja), yang mampu menyumbang beberapa jam setiap hari untuk berusaha menambah penghasilan tambahan bagi keluarganya


Modal kerja disediakan kepada perempuan perorangan melalui kumpulan tanpa jaminan. Kebanyakan nasabah merupakan buruh tani yang tidak memiliki tanah sendiri, dan secara umum memiliki usaha dagang kecil-kecilan, membuat dan menjual jajanan, memelihara hewan dan petani sayur-sayuran.


Visi, Misi dan Tujuan


Visi dari MBK adalah memperbaiki kehidupan dari sebanyak mungkin keluarga berpendapatan rendah, khususnya mereka yang berada dalam segmen 25% bagian paling bawah dari penduduk menurut pendapatannya. MBK berharap mengurangi kerentanan, memberi kehormatan dan kepercayaan diri mereka, serta memberdayakan perempuan.

Dengan demikian, MBK berharap dapat memberikan kontribusi kepada Pemerintah untuk memenuhi Millenium Development Goals, terutama dalam memerangi kemiskinan dan memberdayakan perempuan.


Misi MBK adalah untuk menyediakan modal kerja kepada sebanyak mungkin perempuan dari keluarga berpendapatan rendah di Indonesia yang belum bankable, khususnya mereka yang tinggal di desa-desa dan pinggiran kota kecil, secara adil, jujur, transparan, tepat waktu dan effisien.

Dengan memberikan pembiayaan kepada perempuan yang belum memiliki usaha kecil, MBK berharap untuk menciptakan lapangan kerja baru.


Tujuan jangka menengah MBK adalah untuk mencapai satu juta nasabah pada akhir tahun 2017.


Tujuan tambahan MBK adalah untuk mempelajari praktek-praktek terbaik yang digunakan oleh lembaga sejenis terkemuka di Asia, menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia, kemudian secara aktif membagi pengalamannya dengan lembaga sejenis di Indonesia melalui berbagai jaringan informasi, seminar dan studi tour.